Maklumlah, lagi mellow-mellownya, hehehehe. Langit Beijing lagi mendung-mendungnya, udara lagi dingin-dinginnya, saya jadi mellow semellow-mellownya (mulai lebai, kikikiki).
Mellow begini, saya jadi kepikiran sesuatu yang buat para kaum hawa mungkin bukan sebuah hal yang spesial, tapi buat kaum adam sulit dilakukan atau malah mungkin dianggap sebuah hal yang tabu. Yep, saya mau ngomongin soal “nangis”.
Saya bukan tipe yang gampang nangis, hehehe. Tapi kalau terbawa suasana, gampang banget, hahahaha. Jadi kalau nonton filem yang emang menyentuh banget, atau buku yang menyentuh banget, atau bahkan dengerin lagu yang sedang pas dengan mood mellow saya sekarang, habislah saya termewek-mewek, hihihihi. Cuma ya, kalau lagi mewek-mewek gini biasanya juga ogah lama-lama, soalnya saya jelek kalo lagi mewek, hihihihi. (gak mewek juga jelek, huahahahaha :D)
Eh, nah iya, balik lagi ke topik nangis. Kadang, buat saya sendiri, nangis itu berguna dan bermanfaat banget buat menenangkan diri sendiri, istilahnya, nangis itu punya efek buat bikin diri saya sendiri lega, karena segala macem kesumpekan, kesesakan, dan pikiran yang kacau balau itu seakan terbilas (emangnya lobak pake dibilas…), lalu otak pun bisa berpikir lebih lurus dan lebih rasional dibanding sebelumnya.
Saya pribadi suka nangis (biarpun gak sering) ketika lagi banyak masalah, atau pikiran lagi kalut. Menangis bikin saya jauh lebih tenang, meskipun masalah nggak akan terselesaikan dengan nangis. Toh nangis juga salah satu cara saya buat mempersiapkan diri untuk menghadapi masalah yang ada dengan pikiran yang lebih segar dan tajam (hmm, kog kiasannya agak aneh ya?).
Jadi, saya rasa nangis itu bukan sesuatu yang jelek, bukan penanda kelemahan, juga bukan sesuatu yang memalukan (tapi kalau nangis kejer depan umum ya malu-maluin sih, hehehehe). Nangis itu salah satu pelepas stres yang ampuh
So cry your eyes out (eeh, jangan dibaca secara harafiah ya, saya gak nyaranin situ nangis sampe matanya copot), tapi ingatlah kalau yang namanya kehidupan itu terus berputar seperti roda. Kadang kita di posisi yang lebih lemah, kadang kita di posisi yang lebih unggul. Adakalanya seakan dunia memusuhi kita, sehingga beban rasanya begitu berat dan untuk nafas saja rasanya sesak. Di saat seperti itu, menangis bisa sedikit melegakan nafas yang sesak, tetapi setelah menangis, hapuslah air mata, dan mulailah berjalan lagi.
Karena hidup terlalu indah untuk hanya dipenuhi tangis.
Racauan[25], Arti Sebuah Tangis
[English]About Being An Adult
Sometimes, being in a transition time has its own pros and cons. Even though I was considered an adult already within my family, sometimes I thought I was just another brat in the house, not much different from my little sister.
So guess what, tonight’s topic is being an adult in our minds and hearts :D. Bear with me even though I know that this is just another random ramblings :D.
I know I might just be another brat out here in blogsphere, with lots and lots of celebs and lots of people with minds brighter than mine and thoughts far deeper beyond mine. But I believe that every words have to be delivered, no matter what. That is the reason why I write.
As the one still being in a transition ages, I finally started to have a grasp of what kind of adult I would want to be. And I began to understand the meaning of being an adult. It’s all in our mind, it’s all in our hearts. Feelings of considerations for others, feeling of not wanting to burden your parents for your life, and so so many other feelings that I can’t put in to words, feelings that I finally understand that I can’t be egoist all the time, feelings that I have to do something for the good of others, feelings that I have to be responsible with my own life.
But… sometimes I found lots of adults forgot their dreams. I don’t want to be that kind of adults. I want to remember all my dreams and embrace them all in reality. I want to make them into reality that I lived with everyday, no matter what.
I know, this is foolish talks.
Basically, I am a fool, and lots of others are just might be the same, they just might don’t want to admit it.
But I think, making my dreams into realities are not as easy as it sounds. It needs hard works, it needs persistence, and it needs perserverance. Being a foolish people is not as easy as cracking a dirty joke. Being foolish means holding on to it, no matter how others look at it and believe that is the best path for you. No matter how many difficulities needed to be faced, no matter how hard life tossed the fool around, no matter what, the fool keep believes that what he had chosen is the best for him.
I know the path I chose might be difficult to tread, and filled with lots of hardships and tests for my perserverance and determination, but that’s what being an adult is all about. To choose your own path and to be responsible with the choice, no matter what.
A Silent Night, Racauan di Malam Natal
Udah lama nggak nulis, karena kesibukan gue sebagai pelajar yang udah mau ujian akhir dan lagi dihujani tugas plus nulis essay kanan kiri, hari ini mumpung malam Natal dan mumpung gue lagi punya otak buat menuliskannya, gue lebih baik tuliskan aja dalam sehari ini…
Jadi, tahun ini gue tidak merayakan Natal. Bukannya nggak mau merayakan sih, tepatnya gue nggak punya kesempatan merayakannya. Padahal bagi diri gue pribadi, Natal adalah salah satu dari 4 kesempatan libur yang paling gue suka. Marilah gue jelaskan satu-satu, liburan mana aja yang gue suka.
Pertama, pastinya, sebagai seorang keturunan Tionghoa, gue sudah pasti paling suka IMLEK.
Wajar lah yaa, namanya Imlek gitu loh, biarpun usia udah nyaris masuk kepala dua (huhuhu, fakta yang menyebalkan
), tapi karena gue belom kerja dan belom menikah, jadi otomatis masih terima angpao, hahahahaha… Itulah sebuah hari di mana liat duit dan makanan melimpah ruah kayak surga, hahahahahaha (<- pernyataan ini sedikit banyak lebai). Ah, biarpun biasanya Imlek itu diidentikkan dengan angpao bagi anak-anak, tapi setelah “ilang” dari rumah selama hampir 2 tahun dan nggak pulang sewaktu Imlek tahun ini, Imlek punya makna lebih dari sekedar amplop merah berisi duit yang akan gue terima sewaktu salaman sama para om dan tante. Setelah “ilang” dari rumah selama lebih dari setahun, gue baru sadar kalau Imlek adalah salah satu kesempatan yang gue punya untuk menyambung tali silahturahmi antara sepupu-sepupu gue yang karena kesibukan masing-masing, susah banget untuk ketemu di hari biasa. Menyambung kabar, menyambung rasa kangen yang ada, saling menguatkan, dan juga saling mendukung. Kadang, hal-hal sepele macam ginilah yang bikin homesick, hahahahaha.
Liburan kedua yang gue suka, adalah NATAL. Hohohoho, itu suara Santa. Biarpun rumah nggak pasang pohon dan ke gerejanya bolong-bolong suka-suka hati, tapi sebuah Natal bagi gue adalah… surga belanja, hahahahahaha… banyak diskon sih hari gini :p. Yah, belanja pas Natal, tapi dipakenya pas Imlekan, hahahaha… cuma gak cuma segitu aja senengnya, rame-rame sekeluarga jalan-jalan atau malah ngumpul di rumah, main PS atau nonton Home Alone di TV, hahahaha. Ada sebuah rasa damai, tenang, dan perasaan kalau keluarga itu emang meant to be together, no matter what. Sebuah rasa aman dan rasa terlindungi dari sebuah kata “keluarga”.
Liburan ketiga yang gue suka, LEBARAN. Bingung kan, kog gue bisa suka Lebaran, hahahahaha. Ngerayain juga nggak, kog bisa suka? Satu alasan kenapa gue suka libur Lebaran, karena kalau pas libur Lebaran, kesempatan gue keluar kota lebih besar dibandingkan sewaktu liburan Natal atau Imlek, hahahaha. Dan pas Lebaran, biasanya Jakarta tuh sepiiiii, kalau mau nyetir tuh enak, gak pake macet, hahahaha. Asoii dah pokoknyaaa
Nah, liburan terakhir yang gue suka adalah libur semesteran, yang biasanya berlangsung sebulan lebih, tapi mungkin nggak akan gue alami lagi begitu gue selesai kuliah, kecuali gue ambil master :p. Well, liburan ini adalah libur paling panjang di antara ketiga liburan di atas, tapi juga merupakan liburan yang paling nggak ngapa-ngapain. Nggak ngapa-ngapain dalam pengertian nggak keluar kota, nggak belanja, cuma mendekam di rumah main PS atau internetan, atau kumpul sama temen-temen di kota Jakarta sendiri. Santai, rileks, dan males berat, itu mungkin perasaan yang tersisa di dalam otak dan badan gue setelah selesai libur semesteran, hahahaha.
Yah, jadi begitulah, tahun ini tidak ada Natal buat gue, dan mungkin tahun depan juga begitu, tahun depannya lagi juga begitu, dan akan terus begitu sampai nanti gue lulus. Dan gue akan menemani malam Natal ini dengan sebuah kue, sebuah laptop, dan mungkin beberapa lagu tradisional Natal, melewati malam Natal yang benar-benar sunyi (karena gak ada orang, hahahaha) dan belajar buat ujian besok. Yep, Merry Christmas to the world, Merry Christmas to Politikana, Merry Christmas to Ngerumpi, and Merry Christmas, to me…
Racauan[24], Dasar Nyubi Katrok :))
Okeee, gue tahu persis pemilihan nama domain itu penting, tapi nggak sangka, kalau pemilihan nama domain gue (seosblog) dikaitkan dengan kontes SEO, alias Search Engine Optimalization (kalau mau nyari definisi lengkapnya, tanya mbah gugel atau paklik wiki aja ya
). Waduuuh, kontes SEO apaan aja gue baru tahu pas blog gue tahu-tahu nggak bisa dibuka, hahahaha, dasar nyubi, gak ngerti apa-apa. :)) :))
Karena gue pada awalnya nggak ngerti kenapa blog gue entah kenapa tahu-tahu dibilang “suspended or archived“, gue dengan polosnya mengirim sebuah “ticket” alias surat protes ke dagdigdug. :))
Naah, setelah nunggu ngalor-ngidul, sampe nyaris berjamur roti tawar gue (erh, yang ini sih becanda, hahaha), akhirnya datanglah balasan dari dagdigdug… yang isinya, nyuruh gue baca tentang kontes SEO. Reaksi pertama gue, “Hah?? Apaan ini?” Ahuahahahahaha, dasar guenya nyubi katrok, SEO itu apa aja gue baru ngeh setelah baca artikel itu. Dan setelah membaca artikel itu, gue makin bingung, huahahahaha. Makin tak tercerahkan, malah makin nggak ngerti kenapa blog gue kena suspend, huahahahaha. Akhirnya, sebuah reply pun dikirim lagi ke dagdigdug, isinya sih simpel, minta dagdigdug tinjau ulang isi blog gue, karena gue nggak merasa pernah melanggar ketentuan layanan, hahahahaha…
Dan, akhirnya, here I am!
Blog gue aktif lagi, dan jujur aja yeee, bagi para pembaca yang niat pengen bikin blog, lain kali coba search dulu domain yang akan kalian pakai namanya itu bakalan bersinggungan dengan ketentuan layanan atau potensial buat mengalami salah paham dengan pengelola atau nggak. Ini adalah sebuah kebodohan yang gue lakukan karena gue nggak main cari info tentang akronim yang gue pake, dan pada akhirnya berujung pada kesalahpahaman antara gue dan pengelola dagdigdug, hahahahaha…
Udah ah cuap-cuapnya, pas malem Natal nih, saatnya bersenang-senang, kumpul keluarga, makan-makan, dan bersantai ria.
Bagi yang merayakan Natal ataupun nggak, Selamat Menikmati Liburan, have a nice holiday!
Love, Seo Hye Ling
Diproteksi: [Wish Series]2nd Wish: Be Mine
Diproteksi: [Wish Series] 1st Wish : Live On
Racauan[23], If Heaven AND Hell Never Existed
Jika surga dan neraka tak pernah ada, itu kata Chrisye. 2 konsep kehidupan setelah kematian yang ada dalam 5 agama besar di Indonesia. Surga, menawarkan segala kenikmatan, kedamaian, ketenangan lahir dan batin, kebahagiaan, kesenangan, intinya, segala hal yang positif sampai cabul pun ditawarkan oleh Surga. Neraka, justru menawarkan sebaliknya. Neraka diidentikkan dengan penderitaan, dengan kesulitan, siksaan, kekejian, darah, panas tak tertahankan, dahaga dan lapar berkepanjangan, pokoknya seram dan mengerikan.
Tetapi, pernahkah kita berpikir kedua konsep ini justru tak pernah membuat kita sebagai manusia bertindak dengan penuh ketulusan terhadap sesama kita? Begini, biarlah saya luruskan maksud saya.
Anda melihat seorang pengemis di jalan. Seorang kakek renta, dengan jenggot tak rapi, rambut berantakan tak tersisir, pakaian kumal. Apa yang terlintas di pikiran anda? Anggota sindikat pengemis? Atau malah terbersit rasa iba? Atau ketika anda menyumbang untuk korban bencana alam, apa yang pertama kali terlintas di pikiran anda sebagai alasan untuk menyumbang? Demi gengsi? Demi iming-iming amal baik untuk mempermudah jalan anda ke surga? Atau menyumbang karena memang ada yang bisa disumbangkan, dan ada momen yang tepat untuk menyumbang?
Saya tidak akan mengatakan kalau saya terlepas dari pikiran-pikiran macam itu. Saya menolong dengan pamrih tertentu, yaitu amal baik. Dan saya juga menolong dengan harapan amal baik itu akan kembali kepada saya. Tetapi coba kita bayangkan sebuah dunia yang tak mengenal konsep Surga dan Neraka. Sebuah dunia tanpa agama.
Akankah dunia itu menjadi damai, karena semua orang mengerti bahwa menyakiti itu tidak enak, sehingga tak ingin menyakiti orang lain? Akankah dunia itu damai, karena tak ada perang yang dipicu sentimen antar agama? Akankah dunia itu damai, karena tak ada iming-iming surga untuk setiap perbuatan yang dikatakan “baik”?
Atau akankah dunia itu hancur dengan peperangan karena tak ada neraka? Akankah dunia itu dikuasai oleh kekacauan karena tak ada neraka sebagai konsep abstrak untuk menakut-nakuti? Akankah dunia itu diisi dengan rangkaian kekerasan tanpa henti?
Tetapi, apabila manusia tak pernah mengenal konsep Surga dan Neraka, akankah kita kembali ke masa-masa barbar di mana sesama manusia saling bantai? Atau akankah kita memahami kalau konflik hanya melahirkan konflik lainnya? Atau yang lebih simpelnya, akankah kita menjadi lebih tulus dalam berbuat kebaikan bagi sesama kita manusia?
Semoga bisa menjadi bahan renungan kita di malam minggu ini. Daripada bengong nggak jelas
NB : Terinspirasi dari obrolan bersama Hargyo aka Yoyo aka HTN, katanya dia single dan lagi nyari istri yang cerdas, ada yang mau? Lumayan tuh, lulusan master dari Taiwan :p
Racauan[22], Sakit Itu Nggak Enak
Yeeeee, itu mah jelas yah? Sejak kapan coba sakit tuh enak? Anak kecil juga tau yang namanya sakit itu nggak pernah enak… *digeplak*
Eh, tapi saya lagi sakit beneran :))
Setelah udah lama nggak pernah sakit berat (dalam arti nggak terkapar di ranjang gara2 sakit yah, hehehe
), akhirnya hari Jumat tanggal 13 kemarin, saya tepar di ranjang dengan sukses. :))
Penyebab : demam, pilek, batuk. Pemicunya : kayaknya sih kecapekan, gara-gara kurang tidur, lalu stres ujian, lalu perubahan cuaca yang mendadak dingin.
Intinya sih… gue sakit, hehehehe. *dikeplak*
Dan gak ada yang ngerawat, secara anak kost gitu, mana ada yang mau ngerawat sih… beliin makanan aja nggak, huhuhu, sedihnya… untungnya nggak sakit parah sampe nggak bisa gerak sih, jadi setidaknya untuk urusan perut (alias makan) gue masih bisa ngurus diri sendiri, hehehe.
Tapi, kalau diliat lagi, gue sebenarnya bener2 better off sewaktu masih tinggal sama bonyok (bokap-nyokap) dulu. Sakit, ada yang masakin, ada yang nanyain udah makan belom, ada yang nyariin obat, ada yang mbawain ke dokter, dan yang paling asik, ada yang MBAYARIN, wekekekeke… nggak usah pusing-pusing soal duit, nggak usah bingung nyari obat, semua udah tersedia, komplet.
Giliran jadi anak kost… sakit nggak ada yang nengok, gak ada yang ngerawat, nggak ada yang nanyain, gak ada yang nyariin obat, gak ada yang bawain ke dokter, gak ada yang masakin, dan GAK ADA YANG BAYARIN BIAYA DOKTERNYA, huhuhuhu… *disambit duren*
Cuma sisi positifnya sih, giliran sakit dan suara ilang begini, gue jadi sedikit tidak bawel.
Racauan[21], Virginitas
Perhatian, atensiong, kalau mbaca tulisan yang ini jangan pake nafsu ya, gue nggak tanggung jawab kalau situ mbaca dengan nafsu. Karena gue nggak menyediakan sarana pemuas nafsunya (nafsu makan kalian kan gede-gede, bangkrut gue kalau traktir kaliyan semua makan). :p
Basi? Iya. Sudah nggak terhitung banyaknya penulis selain gue, dan tentunya lebih bagus dari gue, yang membahas topik virginitas. Tapi topik ini memang tidak pernah mati. Selain karena pandangan setiap orang yang berbeda-beda tentang virginitas sendiri, cara masing-masing orang dalam menyikapinya juga berbeda-beda.
Baiklah, kita mulai dari definisi virginitas sendiri. Sebenarnya, virginitas (pada pria dan perempuan) itu diukur dari mana? Kalau kata banyak orang di luar sana, virginitas itu diukur dari pernah atau tidak pernah berhubungan seksual dengan lawan jenis sampai tahap intercourse, atau yang lebih absurd lagi, belum pernah melakukan aktivitas seksual. Uhm, kalau berdasarkan definisi yang terakhir, yang cowok-cowok berarti otomatis sudah kehilangan virginitasnya pada sabun dan telapak tangan dong, ya? Huahahahaha…. Eh, ketinggalan, ada satu lagi, ada yang mendefinisikan virginitas pada selaput dara pada perempuan, tapi kalau pada pria, gimana cara mendefinisikannya?
Okee, sekarang kita tinjau satu-satu definisi virginitas yang udah gue jabarkan tadi… rasanya kalau yang tidak pernah melakukan aktivitas seksual agak absurd, jadi yang itu dicoret deh. Sementara kalau berdasarkan selaput dara, selain karena tidak adil karena yang pria tidak bisa didefinisikan, gimana tuh nasib para perempuan yang selaput daranya rusak karena kecelakaan atau malah yang lahir tanpa selaput dara? Bingung, kan? Jadi, gue rasa, yang tepat ya belum pernah melakukan hubungan seksual sampai tahap intercourse, itu masih bisa dibilang virgin.
Sepakat dengan definisi, mari kita beranjak ke masalah penting atau tidak pentingnya virginitas. Nah, ini yang susah. Pergeseran moral dan nilai-nilai lama ke nilai-nilai baru itu belum seluruhnya terjadi. Dan ada 2 nilai besar yang menurut gue cukup berbenturan di sini. Yang pertama, menilai kalau virginitas itu bukan segalanya, masih banyak hal lain yang lebih penting dari virginitas. Yang kedua, menilai kalau virginitas itu adalah tolok ukur dari seberapa berharga pasangannya bagi dirinya sendiri. (bingung? Sama, gue juga! :)) )
Hmm, kalau udah begini, gue juga jadi bingung. Kalau gue pribadi sih, menganggap virginitas itu adalah sesuatu yang sangat penting bagi gue, karena virginitas itu sesuatu yang menurut gue cuma mau gue serahkan sama orang yang gue anggap tepat dan layak buat mendampingi hidup gue, kalau perlu ada payung hukumnya segala, hehehehe. Bukan apa-apa, buat gue pribadi, intercourse itu adalah momen paling intim sekaligus paling indah yang pernah ada di hidup manusia (kalau nggak, kenapa banyak penyembah pagan yang menggunakan intercourse sebagai cara beribadah?), and I want to share that moment with the one I think will worth loving for a life time. Kuno ya? Yah, begitulah gue, gue memang hasil didikan jaman batu, hahahahaha.
Teruss, bagi para pembaca yang sudah nggak virgin lagi, gue juga menghargai pilihan ataupun kondisi kalian. Memilih untuk melepas virginitas buat gue itu hal yang nggak mudah. Gue nggak mau menghakimi, dengan menganggap rendah atau lain semacamnya. Melepas virginitas adalah pilihan, dan sebuah pilihan yang sulit. Meskipun kalau bertolak dari sudut pandang gue, melepas virginitas itu tidak sebaiknya dilakukan kalau atas paksaan. Kalau memang saling sayang, ya tak perlu disesali, toh? Dilepasnya juga ke seseorang yang dianggap penting dan pantas, kalau ternyata orang itu bukanlah orang yang tepat, tak perlulah disesali. Anggaplah itu sebuah kesalahan, tapi stay proud and tetaplah menganggap dirimu sendiri itu berharga. Karena semua orang adalah berharga, terlepas dari dia masih virgin atau tidak.
Nah, sekarang, gue mau membahas tentang ekspektasi yang kadang menurut saya “konyol”. Pria, memang dasar egonya besar maunya dapat istri atau pasangan yang masih virgin (meskipun gue nggak pukul rata semua orang mempunyai pola pikir yang sama), dan wanita (yang masih virgin terutama) juga tentunya maunya dapet pasangan yang masih “mulus” (huakakakakaka, bahasanyaaa :)) ). Bukan apa-apa sih, gue nggak menyalahkan cara pikirnya kog. Semua orang tentu maunya dapet mobil baru yang masih mulus bodinya, masih halus bunyi mesinnya, dan masih bisa ditest-drive dulu (ngelantur opo kamu, nduuk?? *ditimpuk*). Ehh, intinya sih gini, semua orang tentu pengennya dapet barang yang masih tersegel dengan rapih, bukannya yang sudah dibuka dan dibaca-baca orang (loh, makin mbulet?). Tapi apa iya prinsip macam begitu bisa kita terapkan dalam cinta?
Maksud gue begini… misalkan ada pria atau perempuan yang ok dalam segala hal dan istilahnya udah tinggal one step closer untuk mewujudkan apa yang disebut sebagai “neraka sekaligus surga kehidupan” (baca : pernikahan). Dan tiba-tiba, si pasangan perfect itu bilang kalau dia sudah melepas virginitasnya.
Gue nggak akan bilang kalau kaget itu abnormal. Gue nggak akan bilang kalau rasa kecewa yang muncul bersama pernyataan si pasangan perfect adalah abnormal dan nggak seharusnya ada. Rasa-rasa semacam marah, kecewa, dan mungkin sekali merasa tertipu, nggak gue pungkiri pasti bakalan ada. Tapi… kalau emang beneran sayang sama si pasangan perfect itu, kenapa juga harus nggak sayang sama dia karena sebuah ketidak sempurnaan yang muncul di masa lalunya? Dan menurut gue, nggak adil juga kalau misalnya pasangan jadi dicap rendah atau dicurigai karena masa lalunya.
Karena setiap manusia punya kesalahan dan pasti ingin dimaafkan dari kesalahan itu. Pada dasarnya semua itu harus timbal balik, bukankah begitu?
Komentar, pendapat, dan diskusi diterima dengan tangan terbuka…
Racauan[20], In A Memory…
In a memory of a not as distant past, I remembered being a part of a big family. A huge warmth and happy days filled and replace the reality that I don’t want to face. And tonight, a part of the warmth pushed on me, made me felt as if I was back to those days that I missed. Back to those not so distant days. But those days can’t come back. Because time moves forward, and not the otherwise.
In a memory of the warm embrace I felt, in a memory of short moments but so full of happiness, in a memory of a painful experiences, in a memory of sad stories, it all came back to me, as if to remind me, “They’re still there”.
Sometimes, I forgot about people that care about me. Sometimes, I forgot about those that support me with their hearts and prayers that I’ll achieve my dreams. Sometimes, I forgot that I still have those “comrades in arms” whenever life got the best of me.
A voice, a distant but near, a voice from the past, reminds me that she’s still here even now. Reminds me that even though we’re far apart, the bond is still there. And I never thought that a voice could move me to write this much.
Guys, I’ve been missing you all. Even though we’re far apart, I believe that our bond is still there, no matter what. I’m sorry for not realizing how important all of you to me. I love you, my friends, and my “comrades in arms”